|
- ARTIKEL -
Senin, 09 Oct 2006
Menelusuri Sejarah Al Qur’an
Apakah Al Qur’an itu ?
a. Arti kata Qur’an dari apa yang dimaksud dengan Al Qur’an “Qur’an" menurut bahasa berarti “bacaan”. Adapun definisi Al Qur’an ialah : “Kalam Allah SWT yang merupakan mu’jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada nabi Muhammad SAW dan membacanya adalah ibadah.
Dengan definisi lain, kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-nabi selain Nabi Muhammad SAW, tidak dinamakan Al Qur’an seperti taurat yanga diturunkan kepada Nabi Musa AS, atau Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa AS. Demikian pula kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai ibadah, seperti Hadis Qudsi, tidak pula dinamakan Al Qur’an.
b. Cara-cara Al Qur’an diwahyukan
Nabi Muhammad SAW dalam hal menerima wahyu mengetahui bermacam-macam cara dan keadaan, di antaranya :
1. Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi Muhammad SAW, tidak ada melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah barada saja dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabi mengatakan :Ruhul Qudus mewahyukan ke dalam kalbuku,”(lihat surat 42 Asy Syuraa ayat 51)
2. malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadaNya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata itu.
3. Wahyu datang kepadaNya seperti gemerincingnya lonceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh Nabi. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya wahyu ini di musim dingin. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit : “ Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa.”
4. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki seperti keadaan rupanya yang asli. Hal ini tersebut dalam Al Qur’an surat (53) An Najm ayat 13 dan 14, yang artinya ; “Sesunguhnya Muhammad telah melihatnya pada kali yang lain (kedua), ketika ia berada di Sidratulmuntaha.”
c. Hikmah diturunkan Al Qur’an secara berangsur-angsur
Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Hikamh Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur itu ialah :
1. Agar mudah dimengerti dan dilaksanakan. Orang akan enggan melaksanakan suruhan, dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak. Hal ini disebutkan oleh Bukhari dari riwayat Aisyah r.a
2. Diantara ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan kemaslatan. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al Qur’an diturunkan sekaligus.(ini menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh)
3. Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati.
4. Memudahkan penghapalan. Orang-orang musyrik yang telah menanyakan mengapa Al Qur’an tidak diturunkan sekaligus, sebagimana tersebut dalam Al Qur’an surat (25) Al Furqaan ayat 32, yaitu : ……Mengapakah Al Qur’an tidak diturunkan kepadanya sekaligus……? Kemudian dijawab di dalam ayat itu sendiri : …….Demikianlah, dengan (cara) begitu kami hendak menetapkan hatimu…..”
5. Diantara ayat-ayat ada yang merupakan jawaban daripada petunjukMu penolakan suatu pendapat atau perbuatan, sebagai dikatakan oleh Ibnu Abbas r.a. hal ini tidak dapat terlaksana kalau Al Qur’an diturunkan sekaligus.
d. Ayat-ayat Makhiyah dan ayat-ayat Madaniyah
Ditinjau dari segi masa turunnya, maka Al Qur’an itu dibagi atas dua golongan :
1. Ayat-ayat yang diturunkan di Mekah atau sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Makkiyah.
2. Ayat-ayat yang diturunkan di Madinah atau sesudah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat madaniyah.
Ayat-ayat Makkiyah meliputi meliputi 19/30 dari isi Al Qur’an terdiri atas 86 surat, sedang ayat-ayat Madaniyah meliputi 11/30 dari isi Al Qur’an terdiri atas 28 surat.
Perbedaan surat Makkiyah dengan ayat-ayat Madaniyyah ialah :
1. Ayat-ayat Makkiyah pada umumnya pendek-pendek,sedang ayat madaniyah panjang-panjang yang merupakan 11/30 dari isi Al Qur’an ayat-ayatnya berjumlah 1.456, sedang Makkiyah yang merupakan 19/30 dari isi Al Qur’an jumlah ayat-ayatnya 4.780 ayat. Juz 28 seluruhnya Madaniyah kecuali surat (60). Muntahinah, ayat-ayatnya berjumlah 137 ; sedang juz 29 ialah Makkiyah kecuali surat (76) Ad Dahr, ayat-yatnya berjumlah 431. surat Al Anfaal dan surat Asy Syu’araa masing-masing merupakan setengah juz, tetapi yang pertama Madaniyyah dengan bilangan ayat sebanyak 75, sedang yang kedua Makkiyah dengan ayatnya yang berjumlah 227.
2. Dalam surat-surat Madaniyyah terdapat perkataan “Ya Ayyuhalladzina Aamanu” dan sedikit terdapat perkataan “Yaa Ayuuhannas” sedang dalam surat-surat Makkiyah adalah sebaliknya.
3. Ayat-ayat Makkiyah pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan pahala, kisah-kisah umat yang terdahulu yang mengandung pangajaran dan budi pekerti ; sedang Madaniyyah mengandung hukum-hukum, baik yang berhubungan dengan hukum adat atau hukum-hukum duniawi, seperti hukum kemasyarakatan, hukum ketatanegaraan, hukum perang, hukum internasional, hukum antar agama dan lain-lain.
e. Nama-nama Al Qur’an
Allah memberi kitab-Nya dengan Al Qur’an, yang bearti “bacaan”. Arti ini dapat kita lihat dalam surat (75) Al Qiyaamah ; ayat 17 dan 18 sebagaimana tersebut di atas. Namun ini dikuatkan oleh ayat-ayat yang terdapat dalam surat (17) Al Israa’ ayat 88, surat (2) Al Baqarah ayat 85 ; surat (15) Al Hajr ayat (87). Surat (20) Thaha ayat 2, surat (27) An Naml ayat 6 ; surat (46) Ahqaafi ayat 29, surat (56) Al Waaqi’ah ayat 77, surat (59) Al Hajr ayat 21 dan surat (76) Addaha ayat 23.
Selain Al Qur’an, Allah juga memberi beberapa nama lain bagi kitabNya seperti :
1. Al Kitaab atau Kitaabullah : merupakan synonim dari perkataan Al Qur’an, sebagaimana tersebut dalam surat (2) Al Baqaarah ayat 2 yang artinya : “Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya …… lihat pula surat (6) Al An‘aam ayat 114.
2. Al Furqaan : “Al Furqaan” artinya : “Pembeda” ialah “yang membedakan yang benar dan yang batil” sebagai tersebut dalam surat (25) Al Furqaan ayat 1 yang artinya : “Maha Agung (Allah) yang telah menurunkan Al Furqaan, kepada hambaNya agar ia menjadi peringatan kepada seluruh alam.”
3. Adz-dzikir : artinya, “Peringatan”, sebagaimana yang tersebut dalam surat (15) Al Hajr ayat 9 yang artinya : “Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Adz-Zikir dan sesungguhnya kamilah penjaganya”. Lihat pula surat (16) An Nahl ayat 44.
Dari nama yang empat tersebut di atas, yang paling masyhur dan merupakan nama khas ialah “Al Qur’an"
Penulis : Drs. A Z M I L,M.Hum (Badan INFOKOM Sumut)
|